Selasa, 11 Agustus 2020

Maktub & problematikanya dalam pembelajaran menulis arab

MAKTUB ) DAN PROBLEMATIKANNYA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS ARAB

Zulkifli Dali
E-mail : zulkiflidali7@gmail.com
Abstrak :
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kaidah mantuq ghairu maktub dalam hal berfokus pada pola penulisan mantuq ghairu maktub. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka. Fokus penelitian ini adalah analisis kaidah mantuq ghairu maktub terhadap pola mantuq ghairu maktub (dapat dibaca tapi tidak tertulis) atau kaidah hadf (penguranagan huruf)  dan problematikannya  dalam menulis arab. Berdasarkan hasil peniltian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Hal itu lantaran teks Al-Quran yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm mushaf utsmani. Dalam pengurangan huruf ini atau kaidah mantuq ghairu maktub yang dapat dibaca namun tidak tertulis terdapat pola, ada beberapa pengurangan yaitu ; alif, ya’, dan wawu dan lam.
Kata Kunci : Qawaidul Imla wal Khat, Mantuq Ghairu Maktub

Pendahuluan :
Bahasa arab adalah bahasa dunia setelah bahasa inggris yang di gunakan oleh penduduk dunia dalam kehidupanya, apalagi sebagai muslim di tuntut beribadahnya menggunakan bahasa arab khususnya shalat. Dalam bahasa arab penggunakan kaidah-kaidah sangat menentukan arti dari bahasa itu sandiri, karena kaidah yang ada di bahasa arab lebih banyak di gunakan di bandingkan bahasa arab sehingga bahasa arab lebih sulit untuk di pelajari orang Indonesia di bandingkan bahasa inggris. Dalam penulisan bahasa arab di perlukan ketelitian oleh karena itu latihan qowa idul imla merupakan salah satu pelajaran penting bagi pelajar yang khususnya jurusan bahasa arab untuk melatih menulis tulisan bahasa arab Jadi sebelum ke metode imla, kita hendaklah belajar terlebih dahulu tentang Qawa id.
Qawaid itu sendiri adalah tata bahasa untuk menyusun kalimat di dalam Bahasa Arab, bila kita sudah menguasai Qawa id secara baik, metode selanjutnya adalah dengan belajar imla. Dengan kita mempelajari Imla, yang dimana bahasa arab adalah salah satu bahasa internasional setelah bahasa inggris, maka kita sebagai seorang muslim hendaklah mendalami bahasa arab, dengan teknik imla ini bisa memudahkan kita untuk cepat mengerti bahasa arab, jadi secara tidak langsung kita juga mampelajari salah satu bahasa internasional dan itu adalah keuntungan kita sendiri. Dapat disimpulkan bahwa belajar Bahasa Arab kita harus menguasai Qawaid dan Imla, dengan menguasai metode tersebut penguasaan Bahasa Arab kita menjadi baik.
Qowaid Imlak merupakan mata kuliah dasar kebahasaan yang memberikan bekal pengetahuan pada mahasiswa tentang penulisan bahasa Arab dengan baik dan benar. Serta mata kuliah ini membahas tentang kaidah-kaidah Imla yang telah disepakati oleh para pakar bahasa Arab, yang meliputi: berbagai macam penulisan hamzah, al-washlu dan al-fashlu, ta’ marbuthoh dan maftuhah, alif layyinah, al-ziyadah dan al-hadzf, serta alamat tarqim, dan diharapkan mahasiswa mampu menulis bahasa Arab dengan baik dan benar.
Untuk memperoleh penulisan Arab yang benar bahkan bagus diperlukan pengetahuan tentang kaidah menulis Arab (qawaidul imla’al- Arabiy wal khath al-“Arabiy). Kaidah imlak merupakan ketentuan penulisan kata-kata dan kalimat Arab yang tingkat kebenarannya dapat dilihat diantaranya dari aspek nahwu dan sharaf, ilmu ashwat terkait dengan makharijul huruf, dan kaidah penulisan huruf-huruf sendiri. Adapun kaidah khath merupakan aturan penulisan huruf, kata, dan kalimat dengan indah sesuai dengan jenis khath yang dimaksud. Kaidah khath menjadi penyempurna bagi kaidah imlak, karena tulisan yang indah akan memberikan nilai tambah bagi seorang pembaca, seperti mudah dibaca, menarik karena indah dipandang mata.
Pada dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai antara apa yang tertulis dan apa yang diucapkan, tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Penulisan semacam ini dikenal dengan “rasm imla’i”. sementara itu, dalam penulisan mushaf Al-Quran yang kita ketahui bersama terdapat beberapa penulisan yang berbeda dan tidak sesuai dengan pola penulisan bahasa Arab secara konvensional.
Hal itu lantaran teks Al-Quran yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm mushaf utsmani. Secara definitive, rasm mushaf usmani adalah penulisan kalimat-kalimat atau huruf-huruf Al-Quran yang dilaksanakan dan disahkan oleh Khalifah Utsman bin Affan RA.
            Tujuan kajian ini difokuskan pada penjelasan untuk definisi dari mantuq ghairu maktub, penulisan kaidah mantuq ghairu maktub, pola kaidah hafdz (pengurangan huruf), problematika dalam pembelajaran menlis arab.
            Manfaat kajian ini adalah untuk mengetahui definisi dari mantuq ghairu maktub, macam-macam pola penulisan dalam Al-Quran, kaidah penulisan mantuq ghairu maktub dan problematika dalam menulis arab.


Pembahasan :
A.      Pengertian Mantuq Ghairu Maktub
Mantuq (المنطوق ) artinya adalah yang diucapkan, yang tersurat atau teks, dan lain-lain. Mantuq dalam istilah ilmu ushul fiqh adalah : “ Sesuatu yang ditunjuk oleh lafadz sesuai dengan teks ucapan itu.”
Sedangkan Maktub secara bahasa artinya tidak tertulis. Jadi, mantuq ghairu maktub adalah huruf yang sering dibaca atau dilafadzkan namun tidak tertulis.[1]
B.       Macam-Macam Pola Penulisan Al-Quran
Penulisan mushaf memiliki beberapa kaidah (pola penulisan) baik dalam khat dan rasm-nya. Pola penulisan ini terbagi enam, yaitu :
1.    Kaidah hadf (pengurangan huruf). Dalam pola ini ada beberapa pengurangan ; alif, ya’, dan wawu dan lam.
a.       Pengurangan huruf alif, seperti lafadz : (سبحن) (الرّحمن), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (سبحان) (الرّحمان).
b.      Pengurangan huruf ya’ seperti, (غيرباغ), penulisan secara imla’I seharusnya (غيرباغي).
c.       Pengurangan huruf wawu seperti, (يمح الله) (يدع), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (يمحو اللّه) (يدعو).
d.      Pengurangan huruf lam, seperti (الذي)(اليل), penulisan bahasa Arab yang benar seharusnya (اللذي) (الليل).

2.    Pola penambahan huruf, yakni alif, wawu dan ya’.
a.       Penambahan huruf alif, seperti (مائة), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (مئة).
b.      Penambahan huruf ya’ seperti (بأييد), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (بأيد).
c.       Penambahan huruf wawu seperti (أولو) (أولئك), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya  (أولو) (أولئك).
3.    Pola penulisan hamzah, secara ringkas bahwa hamzah sukun ditulis sesuai huruf harakat sebelumnya, seperti pada lafadz (آئذن) (آوتمن) (البأساء). Sedangkan hamzah yang berharakat apabila di awal kalimat dan bersambung dengan huruf tambahan, maka ditulis dengan huruf asli, baik  berharakat fathah maupun berharakat kasrah, seperti (سأنزل) (إذا) (أيوب). Adapun apabila hamzah berada di tengah-tengah kalimat, mak ia ditulis sesuai dengan jenis harakatnya, seperti (تقرؤه) (سئل) (سأل). Sementara hamzah yang berada di ujung kalimat, maka ditulis sesuai dengan harakat sebelumnya, seperti (شاطئ ) (لؤلؤ) (سبأ)
4.    Pola pergantian huruf dengan huruf  yang lain, seperti pergantian huruf alif dengan huruf wawu pada kalimat berikut ini (الحيوة) (الزكوة) (الصلوة), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الحياة) (الزكاة) (الصلاة)
5.    Pola persambungan dan pemisahan huruf dengan huruf yang liana tau sebaliknya.
a.       Pola persambungan seperti (ألن نجمع عظامه) yang lazimnya ditulis (أن لن نجمع عظامه).
b.      Pola pemisahan seperti (أنّ  ما) yang lazimnya ditulis (أنّما).
6.    Pola tulisan yang meiliki dua bacaan, yaitu seperti (يُخَدِعُوْنَ) (مَلِكِ يَوْمِ الّدِّيْنِ), kedua contoh tersebut dalam mushaf tidak ditulis huruf alif sebagai tanda panjang namun ada riwayat yang membaca panjang. Seharusnya, secara penulisan imla’I di tulis sebagai berikut (يُخاَدِعُوْنَ) (مَالِكِ يَوْمِ الّدِّيْنِ). [2]
C.      Penulisan Mantuq Ghairu Maktub
Dalam kaidah imla’, ada beberapa huruf yang sering dibaca atau dilafadzkan, namun tidak tertulis. Sebagaimana pada contoh kata berikut. (لكن-هذا), kata lakin huruf lam pada hakekatnya dibaca panjang, demikian pula pada kata ha, semestinya tulisannya (لاكن- هاذا), akan tetapi tidak ditulis demikian, namun tetap dibaca panjang.
Kaidah: Penulisan membaca panjang huruf yang tidak tertulis terjadi pada beberapa huruf. 
1.      Huruf waw (و), seperti pada kata ( داود), bukan ditulis داوود) ( namun dibaca panjang pada huruf  waw (و).  Kata (طاوس ) bukan ditulis
طاوُوْس), namun dibaca panjang pada huruf  kata )waw).
2.      Huruf alif (ا), seperti pada kata (لكن), bukan ditulis (لاكن ), namun dibaca panjang pada huruf  kata lam (لا).  Kata (ذلك ) bukan ditulis (ذالك), namun dibaca panjang pada huruf  kata dza  (ذ ). Huruf Alif yang tidak dibaca terdapat pada beberapa hal. 
a. Alif  pada Lafdzul Jalalah   ((الل
b. Alif  pada huruf lam  ((إله, أولئك
c. Alif  pada huruf mim  ((الرحْمن, السموات
d. Alif  pada huruf ha ( (إسحق, هرون
e. Alif  pada isim isyarah /kata tunjuk (ذلك, هأناذا, هذا, هذه, هؤلاء, هكذا)[3]
D.      Problematika dalam Menulis Arab
Tata-tulis yang tidak sesuai dengan tata-tulis Imla’
Ini yang sering menjadi masalah, karena anak didik sudah terbiasa sejak dari belajar Tajwid. Diantara tata-baca yang tidak sesuai dengan pelajaran mereka adalah tanda panjang alif (ا) sesudah Fathah, seperti tanda panjang Wawu (و) sesudah Dhommah, dan Ya (ي) sesudah Kasrah, menandakan bacaannya harus panjang, dengan ukuran tertentu sesuai dengan keadaan susunan kalimatnya yang dinamakan bacaan mad. Ada yang bernama “ mad wajib “, dan ada yang “mad jaiz”, dan seterusnya.
Di dalam Al-Quran mereka berhadapan dengan keadaan lain, diantaranya:
a.    Tata-tulis yang “ مَنْطُوْقٌ وَلاَ مَكْتُوْبٌ ” ( dibaca tapi tidak tertulis ).
Seperti “ مَلِكِ ” di al-Fatihah, “مِيْعَدٌ” di al-Anfal : 42, “مَسْجِدَ” di at-Taubah : 12, “سِرْجاً” di al-Furqan : 61, “لَبِثِيْنَ” di al-Saba’: 23, dan “ سَمَوَاتٍ” di banyak ayat, dan masih banyak lagi, misalnya di Juz 1 saja terdapat 204 kata, yang menggambarkan adanya bacaan panjang tetapi dilambangkan dengan  harakat “ فتحة “ berdiri diatas atau di depan huruf tanpa Alif (ا) dan di beberapa kata yang lain memakai Alif (ا­).
Karena anak didik belum memahaminnya, maka pada tahap pemula diberitahukan bahwa pada hakekatnya harakat dalam posisi tegak berdiri di atas atau di belakang huruf adalah sama dengan bacaan panjang yang memakai Alif (ا) seperti yang mereka kenali di dalam pelajaran Tajwid.
Sedangkan bagi anak didik yang sudah memahaminya perlu diberi penjelasan  sesuai dengan tingkatannya. Misalnya dijelaskan bahwa مَالِكِ (مَلِكِ) adalah صِيْغَة (bentuk) isim fa’il, dengan tanda huruf pertama dipanjangkan dengan menggunakan Alif  (ا), مَسْجِدَ (مَسَاجِدَ) merupakan bentuk Sighah Muntaha al –Jumu’ dari kata مَسْجِدٌ, di al-Saba’ : 23, “لَابِثِيْنَ” adalah bentuk Jama’ Mudzakkar Salim dari kata "مِيْعَدٌ" (مِيْعَادٌ),"لَابِثِيْنَ" adalah Isim Zaman dan Makan"سِرْجًا" (سِرَاجًا) adalah Isim Jamid yang tidak diambil dari kata lain dan seterusnya. Kemudian di buatkan kesimpulan tentang adanya bermacam-macam صيغة  (bentuk kalimah), dan diberikan sesuai dengan tingkat pendidikannya.
Karena yang demikian ini bisa jadi belum diakrabi anak didik, maka perlu diterjemahkan dengan tata tulis Imla’ sebagaimana biasanya. Selanjutnya dijelaskan misalnya kata “جِيْءَ” merupakan bentuk Mabni Majhul dari kata “جَاءَ” yang menurut sebagian ahli tafsir ditambahkannya Alif (ا) di belakang “ج” adlah untuk mengingatkan betapa seramnya hari itu, dan betapa ngerinya neraka jahanam. Akan tetapi apakah waktu itu Khalifah ‘Utsman  dan para penulis yang empat orang itu memang sengaja menambahkan Alif (ا) supaya ditafsirkan demikian atau karena memang model tata-tulis Bahasa Quraisy seperti itu, wallahu a’lam.
Mengenal bacaan “إِمَالَةْ” seperti “مَجْرَيْهَا” di Hud : 41 para ahli Qira’at berbeda pendapat tentang tempat-tempatnya. Anak didik yang tidak diprogram secara spesialis, tidak perlu diajarinya, dan kalaupun diajarkan bukan untuk di amalkandalam keseharian mereka, supaya supaya jangan membingungkan orang banyak atau bahkan dijadikan bahan obrolan dan gurauan yang tidak pada tempatnya.
b.    Tata-tulis yang “مَكْتُوْبٌ وَ لَا مَنْطُوْقٌ” (tertulis tapi tidak dibaca)
Ada yang melampaui satu huruf seperti “فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ” , “سَبِّحِ اسْمَ” dan juga ada hamzah Washal (هَمْزَةُ الْوَصْلِ) lainnya, dua huruf  dalam ال “يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ” serta “ال” al-Syamsiyah (ال الشَّمْسِيَّةْ) lainnya, dan tiga huruf اال  dalam “وَلاَ الضَّالِّيْنَ” dan empat huruf   dalam “”, dan masih banyak lagi yang dapat dijumpai. Berdasarkan kaidah Bahasa Arab huruf-huruf tersebut tetap harus ada, akan tetapi karena tata-bacanya, maka harus gugur atau tidak dibaca.
Mengenai “الَم” dan huruf-huruf Muqatha’ah lainnya di awal surah, meskipun tidak diketahui apa arti dan maksudnya, tetap dibaca secara eja yaitu “Alif” (أَلِفْ), Lam (لاَمْ) dan Mim (مِيْمْ), bukan dibaca “اَلَمَ” dengan harakat fathah, kasrah atau dhammah semua. Dalam hal ini yang ditirukan tata-bacannya, bukan membaca tulisannya. Soal apa dan bagaimana artinya semua ahli tafsir sepakat untuk menyerahkan kepada Allah, karena Rasul Allah dan para sahabat menirukan seperti itu.
Yang tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Arab (Tata-Tulis lmla’) seperti  “مِائَةٌ” di al-Baqarah : 259 dengan tambahan Alif (ا) sesudah Mim (م), (أَنَبُوْاْ) di al- An’am : 5 dengan tambahan Alif (ا)  di akhir , “أَنَا” di al-Kafirun dan lain-lain dengan tambahan Alif (ا) di belakang Nun (ن), “أُولَئِكَ” di al-Baqarah : 5 dan lain-lain dengan tambahan Wawu (و) sesudah Hamzah (أ), demikian juga “أُوْلُوُا” di Ali Imran : 7 dan "سَأُورِيْكُمْ" di al-A’raf : 145. Semua tambahan –tambahan ini tidak dibaca. [4]
Selanjutnya keberhasilan seseorang dalam menulis banyak dipengaruhi oleh faktor, baik faktor intern maupun ekstern. Terampil atau pandai menulis tidak terlepas dari proses belajar mengajar. Apabila pembelajarannya dapat diikuti dengan baik maka hasilnya akan baik, sebaliknya jika pembelajarannya kurang baik maka hasil kurang baik juga. Namun dalam PBM dapat dipahami bahwa adanya hasil yang beragam adalah suatu yang wajar karena tidak semua anak mempunyai kemampuan sama, seperti halnya dalam menulis Arab ini. Apabila anak didik sudah mempunyai pengetahuan dasar dan sudah dapat pengalaman belajar menulis maka kesalahan yang dilakukan tidak akan banyak seperti yang dialami oleh anak yang belum pernah/ punya pengalaman sama sekali. Penyebab kesalahan dalam menulis Arab ini khususnya dipengaruhi oleh banyak faktor.
Diantara sebab-sebab kesalahan menulis (imlaiyyah) dilihat dari beberapa faktor (Khathir dkk, 1989:294)
1.    Faktor yang berkaitan dengan bahasa Arab sendiri.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling unik dan bahasa yang paling kaya disbanding dengan bahasa-bahasa yang ada di dunia. Mulai dari huruf-hurufnya, bentuk hurufnya, perobahan-perobahan bentuk kata dari satu kata menjadi beberapa kata baru lain yang mempunyai makna tersendiri pula, sehingga dikatakan bahwa bahasa Arab mempunyai ciri-ciri dan kharakter tersendiri, diantaranya seperti:
a. Ada huruf-huruf yang sama bentuk dan dibedakan bunyinya dengan berbedanya titik contohnya huruf :"ba, ta, tsa’”, “ja, ha, kha”, “dal, dzal”, ”ra, zal”,  “sin, syin”,  shad, dhadh”,tha, dha”, ain, ghain”.
b. Ada huruf-huruf yang berdekatan tempat keluarnya dalam pengucapan (makhrajnya) dan berbeda bentuknya contoh antara bunyi dzal, zal, tsa, sin, syin,shad,ha kecil, ha besar, qaf, kaf.
c. Ada perbedaan penulisan karena berbedanya suara yang dibunyikan antara panjang dan pendek, adanyaistilah fashal dan washal yaitu kapan penulisan sebuah kata boleh di sambung atau dipisah dengan kata –kata lain.
d. Ada undang-undang penulisannya (kaidah imlak)
e. Adanya perbedaan ejaan yang biasa digunakan dengan ejaan yang terdapat di mushaf, seperti ditemukannya istilah ziyadah dan hazaf (penambahan dan pengurangan huruf) pada penulisan.
f. Ada kaidah khusus terkait nahwu dan sharaf.
Mengenali bahasa yang akan ditulis adalah sangat penting karena  dari tulisan yang kita tulis diharapkan orang lain bisa membacanya dan mengerti.
2.    Faktor yang berkaitan dengan kemampuan personilnya, seperti anak ragu dan tidak dapat membedakan bunyi atau suara huruf yang berdekatan makhrajnya, dan lemahnya alat indra (termasuk mata, tangan untuk menulis, mulut sebagai alatucap dan berbicara). Di sisi lain juga karena anak tidak dapat mengingat atau menangkap apa yang sudah diajarkan dengan baik karena rendah/lemahnya tingkat kecerdasan. Di samping itu, jarang latihan menulis tersebut baik di sekolah atau di rumah. Latihan yang kontiniu itu sangat penting karena merupakan usaha perbaikan dan peningkatan mutu dan kualitas hasil kerja atau sebuah keterampilan.
3.    Faktor guru yang kurang menguasai teknik-teknik penulisan aksara Arab, dan kurang memberikan perhatian kepada siswa, serta tidak melakukan upaya perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang ditemukan pada tulisan anak. Guru adalah faktor yang sangat menentukan berjalannya dan terjadinya proses belajar yang baik sehingga memperoleh hasil yang baik juga. Di samping itu, guru juga harus menguasai materi apa yang akan diajarkan, jika berupa keterampilan maka otomatis dia harus menguasai teori dan prakteknya atau juga harus terampil lebih dahulu, sehingga dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam menerapkannya pada anak didik.
4.    Faktor metode pembelajarannya.
Metode merupakan faktor yang cukup menentukan untuk mendapatkan hasil yang baik karena apabila cara atau metode belajarnya tidak baik dan tidak jelas maka hasil yang diharapkan tidak akan terwujud. Apabila yang diharapkan anak terampil dalam menulis maka guru harus memilih metode yang cocok untuk pembelajarannya, dan tidak mungkin memilih metode belajar yang tidak ada unsur praktek/penerapan dan demontrasinya dari guru yang mengajar, serta latihan yang memadai. Jika tidak memperhatikan hal ini maka tujuan belajar tidak akan tercapai, sekalipun guru yang mengajar menguasai teori secara sempurna dan menyampaikan kepada siswanya. Mahmud Yunus mengatakan bahwa “metode lebih penting dari pada materi, artinya metode yang digunakan oleh guru menjadi kunci untuk pencapaian hasil belajar.
Senada dengan penjelasan di atas bahwa untuk mendapatkan hasil tulisan Arab yang benar dan baik terhindar dari kesalahan si penulis harus mengetahui dan menguasai tata cara penulisannya serta kaidah bahasa yang terkait dengannya seperti kaidah imlak sendiri dan kaidah bahasa Arab (nahwu dan sharaf). Kesalahan dalam menulis dapat menyebabkan rusaknya makna yang dimaksud atau orang tidak mengerti apa maksud yang ditulis.
Ahli bahasa mengemukakan bahwa di antara kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam menulis yang penting diperhatikan adalah:
1.    Membedakan antara bunyi suara huruf yang mirip atau berdekat, seperti antara:
 ظ,ذ /ذ,ثت,ط / س, ز /ت, د / د,ض / ت,ط / س,ص/ ث,ظ/.غ,خ أ,ع/ ح,ھـ / ق,ك Apabila sebuah kata menggunakan salah satu diantara huruf yang hampir sama bunyi suaranya maka boleh jadi akan ditulis bukan huruf yang dimaksudkan, seperti kata:  اهدناالصراط المستقيمjika si penulis salah dengar maka akan ditulis إحدناالسراطالمصطقيم Jadi pendengaran yang baik sangat membantu dalam menulis jika dibacakan atau disebutkan oleh orang lain.
2.    Penulisan hamzah washal dan hamzah qatha’, jika si penulis tidak mengetahui perbedaan pemakaian kata-kata yangmenggunakan hamzah qataha’ maka bisa jadi akan menulisnya dengan hamzah washal atau sebaliknya.
3.    Kelalain penulis dalam memberi tanda hamzah pada kata yang diawali dengan hamzah qatha’, padahal satu sisi menulis hamzah tersebut penting untuk membedakan dengan kata yang diwali dengan hamzah washal.
4.    Penulisan hamzah yang berada pada tengah kata atau akhir kata. Karena dalam kaidah imlak penulisan hamzah yang berada pada posisi tersebut berbeda bentuk atau سأل, رءوس, جاء, شىء, rumahnya, seperti kata نشأ
5.    Penulisan alif mamdudah dan alif maqsurah pada akhir kata . Seperti kata   الفتىtidak boleh ditulis dengan alif mamdudah : الفتا
6.    Menghazafkan (menghilangkan) huruf lam pada alif lam sebelum huruf syamsiah. Ini disebabkan bunyi lam lebur apabila sesudahnya diiringi oleh salah satu huruf syamsiah, seperti kata; الشمس akan ditulis اشّمس ini disebabkan karena bunyi huruf lam pada alif lam syamsiah tidak ada diucapkan ketika dibaca.
7.    Tidak membuang huruf hamzah pada kata yang seharusnya dibuang, seperti kata  ابنpada kata معاویة بن أبى سفیان
8.    Penulisan ta’ marbuthah dan ta’ mabsuthah pada akhir kata, seperti kata جامعة  akan ditulis menjadi ٌجامعتٌ
9.    Tidak membuang alif pada kata-kata yang seharusnya dibuang. Hal ini terjadi karena kata-kata tersebut dibaca panjang hanya dalam pengucapan tidak dalam tulisan, seperti kata-kata الله, إله, لكنّ, لكن, ھذا, ھذه, ذلك, طه :
10.    Tidak membuang huruf alif lam pada sebuah kata yang dimasuki atau didahului oleh lam ibtida’, seperti : لَ + الّهْوُ maka penulisannya menjadi لّلهو
11.    Penulisan kata yang dibaca dengan idgham, seperti :  من ما رزقناهمkata yang bergaris dibaca dengan meleburkan bunyi nun kepada mim, maka yang terdengar adalah huruf mim bertasydid.
12.    Memisahkan penulisan kata yang harusnya bersambungan, seperti kata;
 أمّا, لمّا
13.    Tidak menuliskan huruf pada sebuah kata sedangkan dia harus ditulis sekalipun tidak ada diucapkan, seperti penambahan waw pada kata عمرو dan alif pada kata : علموا
14.    Menulis huruf nun di belakang kata yang bertanwin, karena dalam membacanya yang muncul diakahir adalah bunyi nun mati, seperti kata:  عالم ditulis dengan عالمن
15.    Tidak menambahkan alif pada yang nasab dengan fathah, seperti kalimat: إنّ محمدا ذكيُ  kata muhammad dibaca “muhammadan” dengan ketentuan diakahirnya harus ditambahkan alif (disebut juga alif tanwin nasab), jadi tidak ditulis seperti: محمدً .
16.    Menambahkan alif pada akhir kata kata yang nasab yang seharusnya tidak ditambahkan alif tanwin dibelakangnya, معلّمتاً tidak ditulis معلّمةً seperti
17.    Memisahkan kata-kata yang wajib bersambungan, seperti :حينما  ,ريثما , سيّما,حيثما ,كلّما ,قلّما ,طالما (Khuliy, 1982 : 135-37)
Demikianlah penjelasan tentang kesalahan-kesalahan yang banyak terlihat dalam menulis Arab. Penulis melihat bahwa sumber kesalahan tersebut didominasi karena kurangnya pengetahuan si penulis tentang kaidah atau aturan menulis aksara Arab secara rasam imla’iy.
Akan tetapi di sisi lain pengetahuan terkait kata mufradat Arab, nahu dan sharaf juga sangat penting. Karena kecenderungan yang terlihat dalam menulis Arab si penulis sering mengabaikan keterkaitannya dengan cabang ilmu bahasa Arab lainnya, sehingga berakibat pada kesalahan. Ini berarti bahwa dengan dibekalinya seseorang dengan pengetahuan yang komprehensif tentang tata cara menulis Arab dan kaidah bahasa Arab itu sendiri kesalahan dalam menulis dapat diminimalisir. Dengan demikian inilah diantara faktor yang sangat menentukan bisa atau tidaknya seseorang dalam menulis Arab, di samping ada factor metode, guru, dan lainnya yang ikut mempengaruhi berhasil atau tidaknya menulis Arab.
Kegiatan penting lain yang harus dilakukan jika ingin mendapatkan sebuah keterampilan menulis adalah latihan secara terus menerus sekalipun dalam waktu yang singkat. Tanpa latihan atau hanya dengan satu kalilatihan menulis maka belum dapat menghasilkan tulisan yang benar, baik, dan memuaskan. Latihan yang continiu merupakan pembiasaan sehingga tidak akan merasa sulit bahkan mudah. (Putri, 2012)
















Kesimpulan :
Dapat kami simpulkan bahwa definisi dari mantuq ghairu maktub adalah huruf yang di baca atau di lafadzkan tapi tidak tertulis. Pola penulisan Al-Quran yang berbeda dari kaidah konvensional ada 6 salah satunya yaitu mantuq ghairu maktub (dapat dibaca tapi tidak tertulis) atau disebut dengan kaidah hadf (pengurangan huruf).
Dalam pola ini ada beberapa pengurangan ; alif, ya’, dan wawu dan lam. Pengurangan huruf alif, seperti lafadz : (سبحن) (الرّحمن), Pengurangan huruf ya’ seperti, (غيرباغ), Pengurangan huruf wawu seperti, (يمح الله) (يدع), Pengurangan huruf lam, seperti (الذي)(اليل).
Diantara problematika dan sebab-sebab kesalahan menulis (imlaiyyah) dilihat dari beberapa faktor (Khathir dkk, 1989:294) yaitu : Faktor yang berkaitan dengan bahasa Arab sendiri, Faktor yang berkaitan dengan kemampuan personilnya, Faktor guru yang kurang menguasai teknik-teknik penulisan aksara Arab, Faktor metode pembelajarannya.
Dapatkan kami simpulkan juga bahwa kesalahan-kesalahan Menghazafkan (menghilangkan) huruf lam pada alif lam sebelum huruf syamsiah. Ini disebabkan bunyi lam lebur apabila sesudahnya diiringi oleh salah satu huruf syamsiah salah satu huruf syamsiah, seperti kata; الشمس akan ditulis اشّمس ini disebabkan karena bunyi huruf lam pada alif lam syamsiah tidak ada diucapkan ketika dibaca. salah satu huruf syamsiah, seperti kata; الشمس akan ditulis اشّمس ini disebabkan karena bunyi huruf lam pada alif lam syamsiah tidak ada diucapkan ketika dibaca.


Daftar Pustaka :
Disarikan dari Kitab Manahil ‘Irfan fi Ulumil Quran (Kairo : Maktabah Isa Al-Halabi, tt. H. 369)
Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Khuliy, Muhammad Ali, 1982. Asalib Tadris al-Lughah al-‘Arabiyah, Riyadh : Mamlakah as-Su’udiyah
Putri, N. (2012). PROBLEMATIKA MENULIS BAHASA ARAB. Al-Ta Lim. https://doi.org/10.15548/jt.v19i2.19
Rusydi Khathir dkk, Mahmud: 1989. Tharuq Tadris al-Lughah  al-Arabiyah wa al-Tarbiyah al-Diniyah, ttp










[1] Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
[2] Disarikan dari Kitab Manahil ‘Irfan fi Ulumil Quran (Kairo : Maktabah Isa Al-Halabi, tt. H. 369)
[3] Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.

Maktub & problematikanya dalam pembelajaran menulis arab

(  MAKTUB ) DAN PROBLEMATIKANNYA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS ARAB Zulkifli Dali E-mail  : zulkiflidali7@gmail.com Abstrak : Tulisan ini bertu...